Sungailiat – Ada dua poin penting disampaikan Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat Bimtek Peningkatan Kapasitas Aparatur Dukcapil, di Parai Beach Hotel Sungailiat, Rabu (22/9/2021). Pertama, menumbukan rasa kekompakan dan kedua meningkatkan kemampuan emosional dan spiritual.
“Kekompakan itu penting, maka tanamkan rasa kekompakan. Kita melayani masyarakat, perlihatkan kekompakan ini kepada masyarakat. Selain itu, antara aparatur harus akur sehingga bisa bersinergi,” jelasnya.
Ada beberapa kiat agar tetap akur. Asyraf Kepala DP3ACSKB menyarankan agar pegawai berani mengakui kelebihan orang lain. Kemudian bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain, lihat kekurangan diri dan mampu melupakan kesalahan orang lain.
Lebih jauh ia menjelaskan, orang yang mempunyai kemampuan spiritual akan lebih fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Adapun kegiatan outbound merupakan kegiatan yang bisa saling mendorong dan memotivasi dalam suatu kelompok.
Menyinggung mengenai kiat membangun sinergi, jelasnya, harus ada semangat bersaudara, semangat solusi dan semangat sukses bersama. Kemampuan membangun semangat persaudaraan akan berdampak positif terhadap pemberian pelayanan, terutama pelayanan masyarakat.
“Jika masyarakat datang, kita senyum sedikit maka ini akan membuat masyarakat senang. Dalam memberikan pelayanan, ada baiknya kita persiapkan ruang tunggu layak. Inipun bagian cara membuat masyarakat senang. Sangat perlu juga menunjukan sikap baik dan sopan,” ungkapnya.
Sikap dan perbuatan baik sebagai aparatur pelayanan masyarakat membuat dampak positif. Asyraf menjelaskan, sikap yang akan tumbuh yakni, mempunyai kemampuan memahami, menyayangi, keinginan membantu, memaafkan, menguatkan hingga tumbuh kemampuan melindungi.
“Kami mengharapkan permasalahan administrasi kependudukan yang ada bisa diatasi. Temen-teman yang bekerja di Dukcapil hendaknya menerapkan aturan, sehingga pelayanannya menjadi tepat dan benar,” saran Asyraf.
Suharto salah satu peserta kegiatan dari Dukcapil Kabupaten Bangka Tengah berharap, ada kesamaan persepsi dalam menyikapi dokumen kependudukan yang sudah menggunakan barcode yang tidak perlu dilegalisir untuk membuktikan keasliannya.
“Ada instansi tertentu masih minta dokumen kependudukan dilegalisir untuk melengkapi suatu persyaratan. Padahal semestinya tak perlu lagi dilegalisir, sebab dokumen itu sudah dilengkapi barcode,” jelasnya.
Menanggapi kasus ini, Asyraf Kepala DP3ACSKB menyarankan agar Dukcapil setempat berkirim surat ke instansi terkait untuk menjelaskan mengenai keberadaan barcode untuk melihat keaslian suatu dokumen kependudukan. Sebab tak semua orang paham menggunakan teknologi barcode tersebut.
“Belum semua instansi memahami keberadaan barcode ini. Untuk itu perlu dijelaskan dengan berkirim surat agar mempunyai pemahaman dan persepsi sama,” sarannya.
Introspeksi Diri
Sementara Ustadz Dede Purnama Alzulami, LC mengharapkan agar aparatur tidak hanya mengisi kemampuan intelektual. Sebab sangat diperlukan untuk mengisi hati. Motivasi akan lebih berdampak jika mengena ke hati dan saat ini banyak orang kehilangan motivasi.
“Kita bukan hanya perlu mengisi otak, sebab sangat perlu mengisi muatan di hati. Orang yang punya motivasi, sesuatu hal yang tidak masuk akal mampu dilakukannya,” kata Ustadz Dede.
Aparatur disarankan untuk tetap fokus dengan motivasi. Ia menjelaskan, jika aparatur tidak punya motivasi maka seperti tempurung kelapa di tengah lautan. Tempurung itu akan terombang-ambing mengikuti arus dan gelombang.
“Orang yang bahagia adalah orang yang mampu membersihkan diri dari kotor hawa nafsu. Selain itu jangan karena ingin mendapat lebih, lalu menghinakan diri. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah,” tegasnya.(DP3ACSKB/Babel)









