Mandi Belimau, Simbol di Hadapan Depati Marwan

Oleh : Syafrudin Prawiranegara
Sekretaris PW MABMI KBB

SELEMBAR kain itu bernama panji. Kalau untuk sebuah negara, disebut bendera. Harganya secara rupiah tidak seberapa. Tapi entah berapa banyak kata yang bisa disusun sebagai makna dari kehadirannya. Semakin banyak dan berbobot, semakin kuat pula keberadaannya sebagai sesuatu yang diistilahkan dengan: simbol!

Maka, bisa dimengertilah kemudian, mengapa dalam kisah-kisah heroik kehidupan para sahabat Nabi SAW, suatu simbol seperti sangat berarti. Sebut saja kali ini, bagaimana Muslimin mempertahankan panji perang yang terlepas dari tangan tiga panglima yang gugur. Panji itu menandakan pasukan yang masih terus bisa bertempur, belum terkalahkan.

Adalah Mu’tah, nama palagan perang kala itu. Zaid bin Haritsah RA, satu-satunya sahabat yang namanya tersebut dalam Al Qur-an, ditunjuk baginda Nabi SAW sebagai panglima perang Muslimin. Anak angkat Nabi SAW itu bertempur dengan hebat. Saat itu tak ada satu lelaki pun yang terlibat dalam peperangan, bisa menyaingi semangatnya. Sampai akhirnya, sepucuk tombak menghantamnya dengan telak. Ayah Usamah RA itu jatuh ke tanah, dan syahid.

Sesuai pesan Nabi SAW ketika pemberangkatan pasukan, Ja’far bin Abu Thalib RA mengambil panji yang semula di tangan Zaid RA. Ja’far RA yang tak berkuda saat menggenggam tongkat panji, maju memimpin pasukan, dengan keberanian dan semangat yang menyala-nyala. Namun, tangannya terkena tebasan pedang tentara Romawi. Putus!

Praktis, Ja’far RA tak efektif untuk berperang lagi. Namun panji perang tetap di tangannya yang sebelah. Musuh menyasar lalu menebas putus tangan itu dengan pedang. Ja’far RA tak bertangan lagi. Namun dengan kedua lengannya ia mendekap panji yang diamanatkan kepadanya.

Ketika akhirnya ia syahid setelah pedang menembus baju besinya, panji itu pun bergerak jatuh. Tapi Abdullah bin Rawahah RA, sahabat yang disiapkan Nabi SAW sebagai panglima ketiga, dengan sigap mengambilnya, sebelum ia gugur pula kemudian, menyusul Zaid RA dan Ja’far RA.

Seorang sahabat bernama Tsabit bin Arqam RA lalu mengambil panji dari jasad Abdullah RA, dan menyerahkannya kepada Khalid bin Walid RA seraya -kurang lebih- berkata,” Ambillah wahai Khalid. Sebab engkau yang lebih tahu strategi dan muslihat perang. Demi Allah, aku tidak akan mengambil ini kecuali untuk kuserahkan kepadamu!”

Mandi Belimau
Kisah perang yang mendeskripsikan bagaimana arti sebuah simbol di atas, muncul begitu saja di benak saya ketika mencoba memahami makna tradisi mandi belimau di Kabupaten Bangka, yang kini terhenti.

Saat menemukan satu simpulan, bahwa mandi belimau adalah suatu simbol yang melapisi makna apa saja yang bisa kita tafsirkan, teringatlah bagaimana panji perang beralih dari tangan seorang panglima ke panglima yang lain tadi. Mungkin terkesan memaksakan ketersambungan dua realitas yang berbeda.

Tapi itulah bayangan yang lewat selintas dalam pikiran. Sekecil apapun ketersambungannya, rasanya pasti tetap bermanfaat. Setidaknya, memantik pikiran kita untuk kembali menghidupkan tradisi mandi belimau, jelang Romadhon tahun ini.

Pesan Mang Asak
Adalah Mang Asak, orang yang diidentikkan dengan tradisi mandi belimau di tempat kita, karena beliaulah yang dari hulu sampai hilir terlibat langsung dalam prosesinya. Mulai dari persiapan hingga menyiramkan air ke sekujur tubuh mereka yang termasuk dalam daftar orang-orang yang disiram.
Biasanya mereka ini adalah para pejabat pemerintahan di Kabupaten Bangka, bahkan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Bangka, saya termasuk telat menyaksikan prsosesi ini. Baru pada tahun 2013. Itupun karena diajak “murid” Mang Asak, yaitu Haji Marwan (sekarang Sekretaris DPRD KBB). Lumayanlah telat, daripada tidak pernah sama sekali.

Saat itu prosesi berlangsung di Desa Jada Bahrin. Gubernur Eko Maulana Ali hadir pada saat itu, dan tentu saja, menjadi orang yang pertama kali diguyur Mang Asak dengan air yang mengandung limau.

Usai prosesi, Mang Asak beristirahat di kediaman putrinya di desa yang sama, tak jauh dari lokasi pemandian. Dalam silaturrahmi kami ke beliau, berbagai materi obrolan mengalir begitu saja, namun hanya satu yang tak akan terlupa. Pesan itu ditujukan kepada Haji Marwan, berupa harapan agar kelak di kemudian hari, putra Sungaiselan inilah yang menggantikan posisinya sebagai pelaksana prosesi mandi belimau, menggantikan Mang Asak!

Saat itu, spontan Haji Marwan menunjukkan keterkejutannya. Tentu ia tak mengira sama sekali, bakal dipercaya Mang Asak, melalui titahnya yang tidak main-main. Seketika Haji Marwan menolak, sebab ia bukanlah putra Mang Asak. Menurut Haji Marwan, satu-satunya orang yang berhak untuk meneruskan estafeta Mang Asak dalam prosesi mandi belimau, adalah putra Mang Asak sendiri.

Akan tetapi, putra Mang Asak ternyata sudah lebih dahulu menyatakan ketidaksanggupannya untuk mengemban amanah itu. Namun ia tak keberatan sama sekali jika amanah itu selanjutnya diemban oleh orang lain, khususnya Haji Marwan.

Hari ini
Haji Marwan hari ini, secara mentalitas, tentu bukanlah Haji Marwan sepuluh tahun yang lalu. Di belakang namanya kini tertera gelar nisbat Ja’fari, yang menunjukkan nama leluhurnya: Ja’far Sodiq, orang alim yang semasa hidupnya dulu mengajarkan Islam ke penduduk Sungaiselan, dan jasadnya kemudian dikebumikan di Pulau Nangka, setelah menghembuskan nafas yang terakhir.

Sejujurnya, tak ada maksud saya secara sengaja mencocok-cocokan gelar al-Ja’fari pada nama Haji Marwan itu dengan kisah heroik Ja’far bin Abu Tholib RA dalam mempertahankan simbol eksistensi pasukan Muslimin di atas. Tapi, tidakkah keberanian dan semangat Ja’far RA itu boleh disodorkan sebagai inspirasi bagi Haji Marwan untuk menegakkan simbol yang lain, dalam hal ini adalah mandi belimau, sebagi simbol apa saja yang bisa kita maknai secara positif?

Dalam kapasitas sebagai Ketua MABMI KBB yang bergelar DPMP (Darjah Paduka Mahkota Palembang), yang dianugerahkan Sultan Palembang Darussalam, dan penerima pataka MABMI langsung dari Sultan Deli, rasanya tak ada lagi yang diragukan pada Depati Marwan, untuk dapat mengemban mandat adat dari Mang Asak, berupa mandi belimau itu. Sesederhana apapun gelaran acaranya, yang terpokok adalah mandi belimau itu bisa berlangsung. Tentu akan sangat disyukuri, jika bisa kembali semarak.

Teringat pada kelanjutan kisah penyerahan panji perang Muslimin kepada Khalid bin Walid RA tadi, berkatalah kurang lebih Tsabit bin Arqam RA kepada pasukan muslimin: “Bersediakah kalian berada di bawah pimpinan Khalid?” Terpikirlah oleh saya untuk bertanya kepada seluruh tuan-tuan (anggota pria) di MABMI KBB, dengan pertanyaan serupa.

Tapi urung, karena ingat pula bahwa saat ini Depati Marwan bukanlah Penjabat Ketua MABMI KBB, melainkan Ketua MABMI KBB yang definitif! Ia berwenang untuk mengatur pasukannya, sebagaimana Khalid bin Walid dalam perang Mu’tah tadi yang akhirnya berbuah kemenangan!

“Mumpung kita masih diberi waktu,” kata Ebiet G. Ade.
Salam Mandi Belimau!

Tinggalkan Balasan