Cegah Tindak Kekerasan dan Radikalisme di Lingkungan Anak

Pangkalpinang – Harus ada upaya untuk terus memberikan pemahaman kepada anak mengenai dampak buruk dari tindakan kekerasan dan radikalisme. Jangan sampai anak menjadi trauma dengan adanya tindakan tersebut. 

Demikian disampaikan Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd Kepala DP3ACSKB Babel saat acara FGD Pencegahan Kekerasan dan Radikalisme Lingkup dalam rangka Perlindungan Anak dari Jaringan Radikalisme dan Terorisme, di ruang rapat DP3ACSKB, Selasa (10/2/2025).

Langkah pencegahan sangat perlu, pasalnya jumlah anak di Bangka Belitung cukup banyak atau sekitar 30,41 persen dari jumlah penduduk. Asyraf menambahkan, jumlah anak di Bangka Belitung sementara ini tercatat sebanyak 471.228 jiwa.

“Anak merupakan seorang yang belum berusia 18 tahun,” kata Asyraf.

Lebih jauh Asyraf mengatakan, untuk memberikan pencerahan terhadap anak bisa dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan pihak sekolah. Bisa mengambil peran menjadi pembina upacara untuk memberi pengarahan.

Isu mengenai kekerasan dan radikalisme perlu disampaikan. Asyraf menambahkan, selain itu juga dibahas mengenai dampak baik dan buruk ketika menggunakan fasilitas berbasis teknologi.

Asyraf menjelaskan, sekarang ini anak-anak sudah pandai dalam melakukan transaksi berbasis teknologi. Contohnya, transaksi berupa pinjaman online.

“Itulah pentingnya memberikan wawasan kepada anak. Menambah wawasan bagi guru mengenai pencegahan kekerasan dan radikalisme, kemudian untuk disampaikan kepada siswa,” ungkapnya.

Narasumber lain kegiatan ini, AKBP. Maslikan, S.Sos., M.Si selaku Kasatgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 AT Polri, Ustads Sofyan Sauri dan Nurmala Dewi Hernawati dari LPAI Bangka Belitung.

Hal senada disampaikan Nurmala Dewi Hernawati dari LPAI. Ia menjelaskan, dampak radikalisme membuat anak menjadi agresif yang bisa mengancam diri sendiri dan orang lain. Untuk itu perlu peran orang tua memberi pendidikan dan perhatian, terutama lingkungan bermain.

“Orangtua bisa menjadi pendengar yang baik, menjalin komunikasi dengan anak. Orang tua juga dapat menjelaskan mengenai dampak buruk dari paham radikalisme,” ungkapnya.

Hadir dalam FGD tersebut dari Dinas Pendidikan, Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Kesehatan, Badan Kesbangpol, dan sejumlah stakeholder terkait.(hzr) 

Tinggalkan Balasan